CERITA TEMPOE DOELOE SAAT DI PESANTREN

SAHABAT PENA: CERITA TEMPO DOELOE SAAT DI PESANTREN AL-UTSMANI


Oleh: Dr. Muhammad Saeful Kurniawan, MA


Dulu, saat penulis nyantri dipesantren al-Utsmani tidak hanya melulu belajar kitab kuning melainkan juga menggandrungi ilmu jurnalistik melalui Forum Remaja 21 dan As-Shiddiq Intelektual Bandung. Anggotanya terdiri dari berbagai elemen masyarakat mulai dari pejabat, mahasiswa dan santri pondok pesantren. Penulis termasuk anggota delegasi pondok pesantren. Ternyata, penulis tidak sendirian melainkan ada santri putri dari Lirboyo dan Yogyakarta namanya Masfiyatin Nichal yang populer dengan panggilan Afi. 


Dengan berjalannya waktu, kami berdua bersahabat didunia jurnalistik dengan cara kirim surat menyurat via pos sehingga saking seringnya penulis sangat kenal baik dengan semua pegawai kantor pos Tamanan pada waktu itu.

Persahabatan kami berdua cukup lama kalau tidak salah sekitar 10 tahunan lebih hingga pada suatu saat saat penulis bisa bersilaturahim dikediamannya yayasan Bananul Amanah desa Banjarsari Dagangan Madiun. Tidak hanya itu, saat pernikahannya ia mengundang penulis sekaligus pesan tulisan kaligrafi menggunakan tinta emas sebagai kado pernikahannya. Tidak hanya itu, ia juga meminta penulis saat resepsi pernikahannya membuatkan kaligrafi tulisan arab yang dipajang dipelaminannya. Itulah catatan sejarah masa lalu penulis dalam dunia jurnalistik bersama sahabat pena yang terpampang pada foto dibawah ini yang kelihatannya masih kurus kerontang.

Menurut catatan sejarah, kegiatan surat-menyurat dengan teman sudah ada sejak tahun 1930-an. Kemudian fenomena ini berkembang dengan pesat, hingga banyak perusahaan yang membuka jasa menemukan sahabat pena.

Kemudian perusahaan Parker Pen membuka pameran di 1964/1965New York's World Fair. Pameran ini dibuat untuk menunjukkan berbagai inovasi yang dilakukan di Amerika.

Kartu pos New York,
Saat itu Parker Pen menciptakan teknologi komputerisasi untuk mencocokkan karakter dan hobi masing-masing penulis surat agar bisa menjadi sahabat pena. Teknologi ini kemudian dihentikan oleh sang pemilik perusahaan, yaitu Parker Pen sendiri di tahun 1967.

Sahabat pena di Indonesia. Pos Indonesia menjadi salah satu teman berjasa dalam perjalanan kisah sahabat pena. Sejak era tahun 1990 hingga 2000-an, fenomena surat-menyurat dengan orang yang belum dikenal ini terkenal di kalangan remaja dan anak-anak.

Remaja di Indonesia menggunakan berbagai cara untuk menyebarkan nama dan alamat agar bisa mendapat banyak sahabat pena. Mulai dari mengirim pesan ke radio hingga menyewa kolom iklan di koran dan majalah.

Pos Indonesia kemudian menerbitkan majalah Sahabat Pena di tahun 1970. Tujuan diterbitkannya majalah ini untuk mengembangkan pengetahuan generasi muda.

Namun bagian utama majalah ini adalah sarana untuk para remaja di Indonesia mencari dan menemukan sahabat pena. Bahkan hingga saat ini majalah ini masih terbit di sekitar provinsi Jawa Barat dan untuk pelanggan terdaftar via pos.

Sahabat pena masa kini. Perkembangan teknologi komunikasi sempat menghilangkan fenomena sahabat pena. Berkat mudah dan cepatnya proses pengiriman informasi yang bersifat digital, bahkan kantor pos pun sudah jarang disinggahi.

Namun kini fenomena pen pal dikenalkan kembali pada anak muda di Indonesia. Proses pencarian sahabat pena dilakukan menggunakan media sosial, seperti Instagram dan Twitter.

Kemudian selain surat, kita bisa mengirimkan benda-benda lain sesuai kemauan kita. Mulai dari CD berisi daftar lagu favorit, gambar, foto, hingga rol film.

Salam masa lalu, Beddian, 18 Juli 20244

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BLT Januari-Mei 2025 Disalurkan Langsung ke Rumah Warga Desa Trucuk

Pemuda Asal Trucuk yang Menyabet Emas di Kejuaraan Angkat Besi Antar Provinsi 2025

Pembagian Sertifikat PTSL Desa Trucuk di Balaidesa Trucuk